Majalah Farmasetika, 11 (1) 2026, 48-56
https://doi.org/10.24198/mfarmasetika.v11i1.68138
Artikel Penelitian
Risny Oklyan*, Muh Taufiqurrahman
Program Studi Farmasi, Sekolah Tinggi Kesehatan Dirgahayu, Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia 75122
*E-mail : Okrisny12@gmail.com
(Submit 17/11/2025, Revisi 20/-11/2025, Diterima 03/12/2025, Terbit 25/01/2026)
Abstrak
Kulit bawang merah (Allium cepa L.) diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, saponin, dan tanin yang memiliki potensi sebagai bahan aktif obat herbal. Namun, pemanfaatannya masih terbatas dan sering berakhir sebagai limbah. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi stabilitas fisik sediaan emulgel ekstrak etanol 96% kulit bawang merah dengan berbagai konsentrasi ekstrak. Emulgel diformulasikan menggunakan basis karbopol 940 dan dilakukan uji organoleptis, pH, daya sebar, daya lekat, serta viskositas.Hasil uji organoleptis menunjukkan adanya perubahan warna sediaan menjadi semakin coklat seiring peningkatan konsentrasi ekstrak, tanpa memengaruhi bau maupun konsistensi semi solid. Nilai pH seluruh formula masih berada dalam rentang aman sesuai SNI (4,5–8,0) dan pH kulit (4,5–7,5). Uji daya sebar menunjukkan peningkatan diameter sebar sejalan dengan penurunan viskositas, sedangkan uji daya lekat mengalami penurunan dengan bertambahnya konsentrasi ekstrak. Formula tanpa ekstrak (F0) memiliki viskositas tertinggi, sedangkan penambahan ekstrak menurunkan viskositas secara bertahap.
Kata kunci: Kulit bawang merah, Emulgel, Stabilitas fisik
Teks Lengkap:
Pendahuluan
Pendahuluan
Kulit merupakan organ terbesar dan teluar dari tubuh manusia sebagai pertahanan fisik yang utama. kulit bertugas untuk mencegah invasi dari berbagai patogen dan kolonisasi dari berbagai mikroorganisme yang bermanfaat pada kulit turut sereta berperan pada fungsi pertahanan tersebut. Kulit manusia sendiri memiliki banyak bakteri yang hidup baik berupa bakteri, jamur, dan virus1.
Secara empiris, Masyarakat telah mengkonsumsi atau menggunakan bawang meraah dalam terapi untuk menurunkan demam, pusing dan juga influenza. Bawang merah juga dipercaya mampu menyembuhkan penyakit kardiovaskuler2, diabetes dan mampu menurunkan resiko kanker. Kandungan dari bawang merah maupun kulit bawang merah memiliki bnayak kandungan senyawa metabolit sehingga mulai dikembangkan sebagai obat herbal. Akan tetapi, kulit bawang merah yang juga memiliki senyawa metabolit sekunder yang hampir sama dengan bawang merah sering sekali dibuang tanpa mengetahui kegunaanya dan berakhir sebagai limbah-limbah yang dapat mencemari lingkungan3.
Kulit Bawang Merah merupakan salah satu bahan alam yang kaya terhadap senyawa metabolit kimia seperti dengan flavonoid, saponin, dengan tanin sebagai senyawa utama4, Senyawa metabolit sekunder ini telah banyak terbukti memiliki banyak memiliki banyak manfaat bagi mahasiswa bagi kesehatan masyarakat, seperti gangguan gaya hidup dan juga, mengobati berbagai jenis penyakit kuli5.
Emulgel merupakan suatu bentuk sediaan semisolid yang dibuat dengan mencampurkan emulsi dan gelling agent dengan menggunakan rasio perbandingan tertentu. Emulgel dipilih karena stabilitas dari emulsi ditingkatkan dengan penambahan gelling agent. Emulgel sendiri dapat dapat digunakan sebagai sistem penghantaran zat-zat yang bersifat hidrofobik. Senyawa yang bersifat hidrofobik pembuatan sediaan emulgel lebih mudah dilakukan dibanding sediaan gel terkait masalah dari kelarutan senyawa didalam air6.
Sediaan emulgel sendiri nyaman digunakan dan mampu melekat pada kulit dalam waktu yang cukup lama pada permukaan kulit7 serta dapat meningkatkan stabilitas dari sebuah sediaan8. Emulgel dikembangkan sebagai sistem pengantaran obat baru, salah satunya untuk obat yang bersifat hidrofibik seperti minyak atsiri. Diberikan melalui rute transdermal9. Salah satu basis gel yang dapat digunakan adalah karbopol 940 yang dapat menghasilkan bentuk gel bening dan dapat digunakan sebagai bahan pengental yang baik karena mempunyai viskositas yang tinggi10. Karbopol juga mempunyai efek sebgai mendinginkan kulit saat digunakan, memiliki daya rekat tinggi, mudah dicuci dengan air, dan memiliki pelepasan obat yang baik11. Karbopol sebagai gelling angent memiliki stabilitas yang lebih baik dan berpotensi sebagai sistem pengantaran obat pelepasan yang terkontrol8.
Berdasarkan uraian diatas, maka perlu dilakukan penelitian terkait uji stabilitas sedian emulgel ekstrak etanol 96% kulit bawang merah dengan parameter sifat fisiknya.
Metode
Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian adalah oven (Memmert UN55), timbangan analitik (PRseries ohaus), homogenizer (Fluko FM30D), hotplate magnetic stirrer (SCILOGEX HP380-Pro), blender (Philips), spektrofotometri B-one UV Vis 100-OAX, pH meter, alat-alat gelas Laboratorium (Pyrex®), dan lemari pendingin (refrigerator) (Thosiba).
Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian adalah kulit bawang merah (Allium cepa L.), liquid paraffin, sorbitan monolaurate (Span 20), polysorbate 60 (Tween 60), karbopol 940, propylene glycol, gliserin, trietanolamine (TEA), etanol 96% p.a (Merck), DMDM hydantoin (dimethylol-5-5-dimethyllhydantoin) (Cosmetic), vitamin C p.a (Xylong), larutan DPPH p.a (TCI Japan), aquadest, aluminium foil, kertas saring.4
Tabel 1. Formulasi Emulgel Ekstrak Kulit Bawang Merah

Keterangan :
F0 : formula emulgel yang mengandung 0% ekstrak kulit bawang merah
F1 : formula emulgel yang mengandung 0,5% ekstrak kulit bawang merah
F2 : formula emulgel yang mengandung 5% ekstrak kulit bawang merah
F3 : formula emulgel yang mengandung 10% ekstrak kulit bawang merah
Hasil
Tabel 2. Hasil uji organoleptis Emulgel kulit bawang merah

Keterangan:
F0 : Konsentrasi kulit bawang merah 0%
F1 : Konsentrasi kulit bawang merah 0,5%
F2 : Konsentrasi kulit bawang merah 5%
F3 : Konsentrasi kulit bawang merah 10%
Tabel 2. Hasil rata-rata uji pH sediaan emulgel kulit bawang merah


Gambar 1. Hasil uji pH sediaan emulgel kulit bawang merah
Keterangan:
F0 : Konsentrasi kulit bawang merah 0%
F1 : Konsentrasi kulit bawang merah 0,5%
F2 : Konsentrasi kulit bawang merah 5%
F3 : Konsentrasi kulit bawang merah 10%

Gambar 2. Uji daya sebar
Keterangan:
F0 : Konsentrasi kulit bawang merah 0%
F1 : Konsentrasi kulit bawang merah 0,5%
F2 : Konsentrasi kulit bawang merah 5%
F3 : Konsentrasi kulit bawang merah 10%

Gambar 3. Uji daya lekat
Keterangan:
F0 : Konsentrasi kulit bawang merah 0%
F1 : Konsentrasi kulit bawang merah 0,5%
F2 : Konsentrasi kulit bawang merah 5%
F3 : Konsentrasi kulit bawang merah 10%

Gambar 4. Uji Viskositas
Keterangan:
F0 : Konsentrasi kulit bawang merah 0%
F1 : Konsentrasi kulit bawang merah 0,5%
F2 : Konsentrasi kulit bawang merah 5%
F3 : Konsentrasi kulit bawang merah 10%
Pembahasan
Uji organoleptis emulgel kulit bawang merah
Uji organoleptis emulgel bertujuan untuk mengevaluasi sifat fisik dan kimia sediaan menggunakan pancera indra (penglihatan, penciuman, dan perabaan) untuk menilai warna, bau dan bentuk/tekstur/ konsistensi emulgel. Pengujian pada sediaan dilakukan dengan cara visual dilakukan untuk memantau stabilitas dan kualitas formulasi selama masa penyimpanan. Hasil uji organoleptis sediaan emulgel tanpa penambahan ekstrak adalah bening dengan bau khas, sedangkan dengan penambahan ekstrak 0,5% gel berwarnah coklat agak muda, dengan ekstrak 5% dan 10 % memiliki warna yang coklat dengan aroma yang khas bawang merah, maka semakin banyak % penambahan ekstrak maka semakin pekat warna coklat dari sediaan emulgel. Meskipun terdapat perbedaan warna antarfomula, semua formula bentuk fisik yang sama yaitu semi solid. Hal ini menunjukkan bahwa penambahan ekstrak berpengaruh signifikan terhadap perubahan warna, namun tidak memengaruhi bau maupun konsistensi fisik emulgel.
Uji pH sediaan Emulgel kulit bawang merah
Hasil pengukuran pH emulgel pada Gambar 4.1, Hasil pengukuran pH menunjukkan penurunan seiring dengan peningkatan konsentrasi ekstrak kulit bawang merah, yaitu dari 6,74 (F0) menjadi 6,50 (F1), 6,45 (F2), dan 5,87 (F3). Penurunan ini dipengaruhi sifat asam ekstrak kulit bawang merah dengan pH sekitar 4,7 12. Meskipun demikian, seluruh nilai pH masih berada dalam rentang standar mutu SNI 16-4399-1996untuk sediaan kulit, yaitu (4,5–8,0) dan sesuai dengan pH kulit normal (4,5–7,5), sehingga sediaan emulgel dapat dikatakan aman untuk digunakan13,14,15.
Uji Daya Sebar
Hasil uji daya sebar emulgel ekstrak kulit bawang merah menunjukkan bahwa seluruh formula berada dalam rentang 5–7 cm, sesuai kriteria sediaan topikal yang nyaman digunakan16. Nilai daya sebar meningkat seiring bertambahnya konsentrasi ekstrak, dengan formula F3 (10%) menghasilkan diameter sebar terbesar, yaitu 6,5 cm. Hal ini berkaitan dengan penurunan viskositas pada sediaan, di mana viskositas rendah meningkatkan kemampuan alir sehingga memperluas area sebar17. Daya sebar yang baik penting karena dapat memperbesar kontak antara sediaan dengan kulit dan mendukung penetrasi zat aktif ke jaringan, sehingga berpotensi meningkatkan efektivitas terapi topical 18,19.
Uji Daya Lekat
Hasil uji daya lekat emulgel menunjukkan bahwa F0 memiliki daya lekat tertinggi (2,78 detik), sedangkan formula dengan penambahan ekstrak kulit bawang merah (F1, F2, F3) mengalami penurunan, masing-masing menjadi 1,41 detik, 1,12 detik, dan 1,11 detik. Penurunan ini disebabkan oleh berkurangnya viskositas sediaan akibat penambahan ekstrak, sehingga ikatan dengan permukaan kulit melemah20. Meskipun terjadi penurunan, seluruh formula masih memenuhi kriteria daya lekat yang baik, yaitu lebih dari 1 detik21. Daya lekat yang seimbang penting karena jika terlalu kuat dapat menutup pori-pori kulit, sedangkan jika terlalu lemah dapat mengurangi efektivitas terapi22.
Uji Visositas
Hasil uji viskositas emulgel menunjukkan bahwa semua formula masih memenuhi persyaratan viskositas sediaan topikal, yaitu 2000–50.000 cPs23. Formula tanpa ekstrak (F0) memiliki viskositas tertinggi, sedangkan penambahan ekstrak kulit bawang merah pada F1, F2, dan F3 menurunkan viskositas secara bertahap seiring peningkatan konsentrasi. Penurunan viskositas ini berpengaruh pada karakteristik fisik sediaan, di mana viskositas rendah dapat meningkatkan daya sebar namun mengurangi daya lekat, sedangkan viskositas tinggi cenderung meningkatkan daya lekat tetapi menyulitkan aplikasi di kulit24,25 . Dengan demikian, keseimbangan viskositas diperlukan agar emulgel tetap stabil, mudah diaplikasikan, serta efektif menghantarkan zat aktif.
Kesimpulan
Hasil evaluasi fisik emulgel ekstrak kulit bawang merah menunjukkan bahwa penambahan ekstrak berpengaruh terhadap karakteristik sediaan, Uji organoleptis memperlihatkan adanya perubahan warna menjadi semakin kecoklatan seiring dengan penambahan konsentrasi ekstrak kulit bawang merah namun tidak mempengaruhi dari konsentrasi sediaan semi solid. Pengujian pH seluruh formulasi berada dalam rentang standar SNI (4,5–8,0) dan sesuai pH kulit (4,5–7,5), sehingga aman digunakan. Uji daya sebar menunjukkan peningkatan seiring penurunan viskositas, sedangkan daya lekat menurun dengan bertambahnya konsentrasi ekstrak. Viskositas tertinggi dimiliki oleh formula tanpa ekstrak (F0) dan semakin menurun pada formula dengan ekstrak. Dengan demikian, semakin tinggi konsentrasi ekstrak, sediaan menjadi lebih cair, memiliki daya sebar lebih besar namun daya lekat lebih rendah. Secara keseluruhan, semua formula memenuhi kriteria sediaan topikal yang baik dan stabil, serta berpotensi efektif digunakan sebagai emulgel.
Daftar Pustaka
1.Fitriyani NW, & M. (2022) ‘Tinjauan Literatur Mikrobiom pada kulit dalam perpektif dermatologi’.
2.Notoatmodjo, S. (2012). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
3.Suryandari, M., & Kusumo, G. G. (2022). Artikel Penelitian Identifikasi Senyawa metabolit Sekunder Ekstrak Kulit Bawang Merah (Allium cepa L.) dari Berbagai Macam Pelarut Identification of Secondary Metabolites of Onion Peels Extract (Allium cepa L.) of Various Solvent. Journal Pharmasci (Journal of Pharmacy and Science, 7(2), 131–135.
4.Prabowo & Noer (2020). Uji Kualitas Fitokimia Kulit Bawang Merah (Allium ascalonicum).
5.Anand Ganapathy, A., Hari Priya, V. M., & Kumaran, A. (2021). Medicinal plants as a potential source of Phosphodiesterase-5 inhibitors: A review. Journal of Ethnopharmacology, 267, 113536. https://doi.org/10.1016/j.jep.2020.113536
6.Matulyte, I., Jekabsone, A., Jankauskaite, L., Zavistanaviciute, P., Sakiene, V., Bartkiene, E., Ruzauskas, M., Kopustinskiene, D. M., Santini, A., & Bernatoniene, J. (2020). Theessential oil and hydrolats from myristica fragransseeds with magnesium aluminometasilicate as excipient: Antioxidant, antibacterial, and anti-inflammatory activity. Foods, 9(1), 37–49.
7.Lidia, Amalia, K., & Azzahra, N. (2017). Pengembangan Formulasi Sediaan Emulgel Ekstrak Daun Pepaya (Carica papaya L.) dan Uji Antioksidan Dengan Metode DPPH.Jurnal Ilmiah Bakti Farmasi, 2(1),27–32.
8.Ajazuddin, Alexander, A., Khichariya, A., Gupta, S., Patel, R. J., Giri, T. K., & Tripathi, D. K. (2013). Recen texpansions in an emergent novel drug delivery technology: Emulgel.Journal of Controlled Release,171(2),122–132.
9.Sreevidya, V. S. (2019). An Overview on Emulgel. International Journal of Pharmaceutical and Phyto pharmacological Research, 9(1), 92–97.
10.Wahyuddin, M., Kurniati, A., & Aridewi, G. A. P. (2018). Pengaruh Konsentrasi Carbopol 940Terhadap Stabilitas Fisik Sediaan Masker Ekstrak Buah Mengkudu (Morinda citrifolia L.) Sebagai Anti Jerawat.Jf Fik Uinam, 6(1),25–33.
11.Megawati, Roosevelt, A., & Akhir, L. O. (2019). Formulasi dan Uji Stabilitas Fisik Sediaan Gel Ekstrak Kulit Buah Rambutan (Nephelium lappaceum L.) Sebagai Obat Sariawan Menggunakan Variasi Konsentrasi Basis Carbopol. Jurnal Farmasi Sandi Karsa, 5(1), 5– 10.
12.Badriyah & Farihah 2022. Analisis ekstraksi kulit bawang merah (Allium cepa L.) menggunakan metode maserasi. J.Sintesis Vol 3(1), pp:30-37.
13.Arisanty, I., & Pupita.(2013). Konsep Dasr Manajemen Perawatan Luka. Jakarta: EGC
14. Faradiba, F., A., & Ruhama, M., (2013), Formulasi krim wajah dari sari buah jeruk lemon (vitis vinifera l.) dengan variasi konsentrasi elmugator, Majalah Farmasi dan Farmakologi, 17(1), 17- 20
15. Dominica & Handayani 2019. Formulasi dan Evaluasi Sediaan Lotiondari Ekstrak Daun Lengkeng (Dimocarpus Longan) sebagai Antioksidan. jurnal Farmasi dan Ilmu Kefarmasian Indonesia Vol. 6No. 1
16. Handayani, Prima Astuti dan Nurcahyanti, Heti. (2014). Jurnal Bahan Alam Terbarukan edisi 1. Vol:3.
17. Garg, A., Aggarwal, D., Garg, S. &Singla, A.K.(2002). Spreading of Semisolid Formulations, An Update. Pharmaceutical Technology;2002;84-105.
18. Prahasiwi, R.D., Hastuti, E.D., 2018. Formulasi Gel Antioksidan Ekstrak Etil Asetat Tangkai Buah Parijoto (Medinilla Speciosa Blume) Dengan Basis Carbopol Dan Uji Aktivitas Antioksidan Dengan Metode DPPH. Prosiding HEFA (Health Events for All), 2(2), 242-249.
19. Nugraha, L.S.T., (2012). Pengaruh kadar NaCMC Sebagai Bahan Pengental Terhadap Karakteristik Fisik Lotion Repelan Minyak Akar Wangi (Vetiveria zizanioides L.). Skripsi. Semarang : Akademi Farmasi Theresiana.
20. Saryanti, D., Nugraheni, D., Astuti, N. S., & Pertiwi, N. I. (2019). Optimasi Karbopol Dan Hpmc Dalam Formulasi Gel Antijerawat Nanopartikel Ekstrak Daun Sirih (Piper betle Linn). Jurnal Ilmiah Manuntung, 5(2), 192–199
21. Suhesti Ts. Formulasi Sediaan Gel Hand Sanitizer Ekstrak Etanol Daun Nagasari ( Mesua Ferrea L . ) vol. 1, no. 1, 2021.
22. Hapsari, T. R. (2014). Prospek Uwi Sebagai Pangan Fungsional dan Bahan Diversifikasi Pangan. Buletin Palawija, 0(27), 26–38
23. kayanti dkk. (2019). Formulasi Sediaan Krim Pelembab Ekstrak Air Buah Semangka (Citrullus lanatus). Journal Of Pharmacy Science And Practice, volume 6 nomor 1.
24. Sinko, P.J., 2011. Martin Farmasi Fisika dan Ilmu Farmasetika Edisi 5. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta. P 723.
25. Lumentuta, N. E. (2020). Formulasi Dan Uji Stabilitas Fisik Sediaan Krim Ekstrak Etanol Kulit Buah Pisang Goroho (Musa Acuminafe L.) Konsentrasi 12.5% Sebagai Tabir Surya. Jurnal Mipa, Vol 2 Nomor 42- 46.
cara mengutip artikel
https://jurnal.unpad.ac.id/farmasetika/rt/captureCite/68138/26980
Majalah Farmasetika Jurnal Ilmiah Nasional Terakreditasi SINTA 3
