Bahaya Wadah Styrofoam dan Alternatif Penggantinya

Majalah Farmasetika, 4 (2) 2019, 32-34 DOI: https://doi.org/10.24198/farmasetika.v4i2.22589

Download PDF

Izzah Al Mukminah
Program Studi Sarjana Farmasi, Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran, Sumedang, Jawa Barat.

email: izzahlvfam@gmail.com

(Submit 29/5/2019, Revisi 16/7/2019, Diterima 18/7/2019)

Abstrak

Wadah styrofoam tersusun dari polimer-polimer yang berasal dari bahan kimia aditif. Zat-zat aditif dari wadah ini dapat bermigrasi ke makanan yang dikemas, yang berbahaya bagi manusia karena bersifat karsinogenik. Styrofoam atau busa plastik lazim digunakan sebagai pelindung bahan mudah pecah atau disebut juga fragile. Namun, kini styrofoam menjadi salah satu pilihan bahan pengemas makanan dan minuman. Dalam mini review ini dijelaskan terkait bahan berbahaya yang terkandung di dalam wadah styrofoam dan juga wadah alternatif penggantinya.

Kata kunci : styrofoam, polimer, bahan kimia, makanan, minuman

Izzah Al Mukminah
Program Studi Sarjana Farmasi, Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran, Sumedang, Jawa Barat.

email: izzahlvfam@gmail.com

(Submit 29/5/2019, Revisi 16/7/2019, Diterima 18/7/2019)

Pendahuluan

Zaman sekarang semua orang menginginkan semua hal yang serba  praktis contohnya seperti wadah Styrofoam untuk dijadikan wadah makanan yang sekali  pakai dapat langsung dibuang.

Karakteristik wadah dari styrofoam

Wadah styrofoam tersusun dari polimer-polimer yang berasal dari bahan kimia aditif.  Zat-zat aditif dari wadah ini dapat bermigrasi ke makanan yang dikemas, yang berbahaya  bagi manusia karena bersifat karsinogenik. Styrofoam atau busa plastik lazim digunakan sebagai pelindung bahan mudah pecah  atau disebut juga fragile. Namun, kini styrofoam menjadi salah satu pilihan bahan  pengemas makanan dan minuman.

Perlu diketahui, bahwa styrofoam masih termasuk dalam famili plastik. Dengan bahan  pembangun yang disebut polisterin, yaitu suatu jenis plastik yang sangat ringan, tembus  cahaya, kaku dan murah tetapi cepat rapuh. Karena sifat dari bahan pembangun  tersebut, ditambah beberapa bahan-bahan kimia lainnya dan akhirnya akan  menghasilkan bentuk styrofoam seperti yang telah kita ketahui sekarang.

Plasticizer dalam styroform

Apa yang membuat styrofoam menjadi lentur seperti yang bisa kita lihat sekarang? Jadi,  di dalam stirena tersebut yang merupakan bahan dasar dan pembangun styrofoam  terdapat zat plasticizer.

Zat plasticizer adalah bahan tidak dapat menguap yang ditambah ke dalam pembuatan  plastik lalu akan berpengaruh terhadap sifat plastik tersebut yang terbentuk karena akan  mengurangi sifat ikatan-ikatan yang sangat kuat yang mengikat atom-atom pembentuk  stirena tersebut dan menurunkan ikatan-ikatan kuat.

Plasticizer mempunyai titik didih tinggi dan penambahan plasticizer diperlukan untuk  mengatasi sifat rapuh plastik yang disebabkan oleh kekuatan ikatan yang ekstensif.

Kelebihan dan kekurangan styrofoam

Pertama karena praktis. Orang-orang tidak perlu membawa wadah yang sudah kosong  bekas makan atau minuman, dengan wadah styrofoam kita dapat langsung membuah  wadahnya. Selain itu wadah Styrofoam juga dapat menahan panas makanan dalam  waktu yang lebih lama dibandingkan dengan wadah lain.

Tetapi wadah ini juga bersifat karsinogenik atau beracun jika digunakan berlebihan.  Khususnya pada makanan berkuah atau air minum yang memiliki suhu yang tinggi atau  panas, dan juga jika dijadikan wadah makanan dalam waktu yang panjang wadah  Styrofoam ini makin berbahaya.

Zat berbahaya dalam Styrofoam

Jadi selain bahan-bahan penyusun styroform yang telah dipaparkan, Styrofoam juga  mengandung zat kimia yaitu stirena, butyl hidroksi toluene dan poltirena dan juga CFC.

Zat stiren yang terkandung pada Styrofoam ini yang dapat menyebabkan gangguan  pernafasan, iritasi pada kulit, iritasi pada mata pada tingkat rendah dan dapat  menyebabkan kanker pada penggunaan tingkat tinggi. Zat stirena dan zat-zat aditif  lainnya yang terkandung pada Styrofoam ini dapat berpindah dari Styrofoam ke  makanan.

Zat-zat yang ada dalam Styrofoam jika masuk ke dalam makanan menjadi racun dan  akan menyebabkan gangguan pada system endokrin dan juga sistem reproduksi. Oleh  sebab itu penggunaan Styrofoam dapat menyebabkan makanan menjadi beracun. Dan  jika semakin panas makanan atau minuman yang disimpan dalam wadah Styrofoam  menyebabkan semakin cepat zat-zat beracun pada Styrofoam berpindah ke makanan.  Hal ini yang menyebabkan pemakaian Styrofoam sebagai wadah makanan atau minuan  harus dibatasi karena sifat karsinogeniknya.

Zat Butil hidroksi toluena adalah salah satu contoh dari zat plasticizer yang  memberi sifat kepada plastik. Merupakan zat yang hanya bisa larut di dalam lemak dan  turunan dari fenol.

Alternatif wadah kemasan lainnya

Memangnya kemasan untuk makan dan minum cuma Styrofoam saja. Tidak, bukan?  Nah, demi menjunjung tinggi prinsip ramah lingkungan, banyak sekali alternatif untuk  menggantikan sosok styrofoam ini. Apa contohnya? Cara nomor satu adalah dengan  selalu memakai piring atau tempat bekal makan dan selalu membawa botol minum  kemanapun.

Baca : Mahasiswa Olah Kulit Jeruk Jadi Granul Efervescent Pembasmi Jentik Nyamuk  Alternatif nomor dua adalah dengan memakai bahan yang juga plastik tetapi lebih  ramah lingkungan yaitu plastic dengan label polietilen, yaitu bahan-bahan plastik dengan  label 3R : recycle, reuse and reduce.

Polietilen adalah polimer yang unsur-unsur atom karbonnya  bergabung melalui ikatan kovalen yang kuat. Antara rantai satu dengan yang lain  dihubungkan oleh ikatan Van der Waals yang bersifat sangat lemah daripada ikatan-  ikatan lainnya yang menghubungkan atom satu dengan lainnya sehingga terbentuklah  polietilen yang kita kenal dengan plastik.

Ikatan lemah tadi membuat sifat dari plastik menjadi plastis atau melayang-layang  seperti kain. Tetapi perlu diingatkan lagi, bahwa alternatif nomor satu adalah yang paling  ramah lingkungan dan dapat mengurangi limbah-limbah yang dapat berdampak buruk  bagi lingkungan. Walaupun alternative ini bisa dibilang tidak praktis tetapi sangat  menghindari dari penyakit-penyakit yang akan ditimbulkan dari Styrofoam.

Pemerintah Kota New York dan San Francisco resmi mengeluarkan larangan  penggunaan kemasan sekali pakai yang terbuat dari styrofoam. Kebijakan tersebut  diikuti oleh beberapa kota lain seperti Seattle, Los Angeles, Portland, dan Oregon.

Di Inggris, Oxford menjadi kota pertama yang menerapkan larangan penggunaan  styrofoam sejak 2015. Semua restoran dan warung makanan diharuskan menggunakan  kemasan yang ramah lingkungan atau yang bisa didaur ulang.

Kesimpulan

Saat ini, wadah Styrofoam banyak digunakan sebagai wadah makanan dikarenakan kepraktisan pemakaian yang bisa langsung dibuang. Akan tetapi, dibalik kepraktisannya Styrofoam terkandung zat karsinogenik atau beracun jika digunakan berlebihan.  Oleh karena itu, diperlukan alternative pengganti seperti memakai bahan yang juga plastik tetapi lebih  ramah lingkungan yaitu plastic dengan label polietilen, yaitu bahan-bahan plastik dengan  label 3R : recycle, reuse and reduce.

Daftar Pustaka

Sulchan, M. dan Endang N. W. 2007. Keamanan Pangan Kemasan Plastik dan Styrofoam.  Majalah Kedokteran Indonesia Vol. 57 No. 2 : 54-59.

http://eprints.polsri.ac.id/1925/3/BAB%20II%20Nanda.pdf

Pelarangan Styrofoam di Berbagai Negara. https://www.pikiran-rakyat.com/hidup-  gaya/2016/11/12/pelarangan-styrofoam-di-berbagai-negara-384558

About Majalah Farmasetika

Majalah Farmasetika (ISSN : 2686-2506) di situs ini adalah Majalah Farmasetika Edisi Khusus yang merupakan jurnal farmasi di Indonesia SINTA 5 berbentuk artikel penelitian, artikel review, laporan kasus, komentar, dan komunikasi penelitian singkat di bidang farmasi. Edisi khusus ini dibuat untuk kepentingan informasi, edukasi dan penelitian kefarmasian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *