Penandaan Alfa-Mangostin dengan Radionuklida Teknesium-99m sebagai Senyawa Deteksi Kanker

Majalah Farmasetika, 4 (5) 2019, 131-138 DOI: https://doi.org/10.24198/farmasetika.v4i5.23274

Download PDF

Luthfi Utami Setyawati1,*, Risda Rahmi Islamiaty1, Kevin Reinard Lie1, Cindy Aprillianie Wijaya1, Muchtaridi Muchtaridi2

1Program Studi Sarjana Farmasi, Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran 2Departemen Analisis Farmasi dan Kimia Medisinal, Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

*email: luthfi.utamis@gmail.com

(Submit 15/8/2019, Diterima 21/8/2019)

Abstrak

α-mangostin merupakan turunan xanthon yang banyak terdapat pada kulit dan buah manggis. α-mangostin memiliki kemampuan menekan pembentukan senyawa karsinogen yang merupakan salah satu penyebab terjadinya kanker. α-mangostin dapat membentuk kompleks khelat dengan logam seperti teknesium-99m (99mTc), sehingga dapat membentuk sediaan radiofarmaka yang dapat digunakan sebagai diagnosis kanker. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan sediaan radiofarmasi 99mTc-Alfamangostin dengan metode langsung dengan melakukan optimalisasi terhadap beberapa parameter seperti jumlah reduktor, kondisi pH, jumlah ligan, dan waktu inkubasi. Penentuan kemurnian radiokimia dilakukan dengan kromatografi lapis tipis dengan pengembang campuran amonia : etanol : air dengan perbandingan 1 : 2 : 5 untuk memisahkan pengotor radiokimia berupa TcO2 dan NaCl 0,9% untuk memisahkan pengotor radiokimia berupa TcO4. Kondisi optimum penandaan diperoleh pada pH 9, dengan jumlah reduktor 50 μl, jumlah ligan α-mangostin 1000 μg dengan waktu penandaan pada menit ke 0 pada suhu kamar (250C) dengan kemurnian radiokimia 86.5 ± 1,31 %.

Kata kunci : Kanker, α-mangostin, Teknesium-99m, Radiofarmaka

Pendahuluan

Buah manggis merupakan buah yang telah banyak digunakan dalam pengobatan Cina dan Ayurvedic. Buahini mengandung banyak vitamin dan mineral, termasuk vitamin C, fosfor, besi, riboflavin (B12), dan niasin (B3). Buah manggis juga telah ditemukan mengandung zat-zat yang memiliki efek antihistamin, kemoprotektif, dankelas senyawa polifenol alami yang disebut xanthon (1). 

Sebanyak 50 xanthon telah diisolasi dari kulit buah manggis. Xanthon atau adalah metabolit sekunder yang ditemukan pada beberapa keluarga tanaman, termasuk jamur dan lumut. Dari semua turunan xanthon, α-mangostin telah menunjukkan aktivitas anti-kanker terbesar pada kanker prostat, payudara, paru-paru, dan kolorektal. Senyawa ini dapat diisolasi dari kulit buah manggis dan memiliki rumus molekul C24H22O6 (2).

Sejak penemuan α-mangostin pada tahun 1855 oleh W.Schmid dari kulit buah manggis (Garcinia mangostana Linn), telah banyak studi yang dilakukan pada senyawa ini baik pada isolasi, struktural dan juga sifat biologisnya (3). Diantara banyak studi yang dilakukan, sifat antikanker dan sitotoksik dari α-mangostin telah dipelajari melalui sejumlah studi. Berdasarkan penelitian Matsumoto et al. (2003), α-mangostin pada konsentrasi 10 μM  menunjukkan inhibisi sempurna pada sel line leukimia HL60 pada manusia melalui induksi apoptosis (4).

Melanjutkan temuan di atas, Nabandith et al. (2004) melakukan penelitian in vivo aktivitas kemopreventif α-mangostin pada lesi preneoplastik putatif yang terlibat pada karsinogenesis kolon tikus, yang diinduksi 1,2-dimetilhidrazin (DMH). Pemberian senyawa tersebut selama 4-5 minggu, menghambat induksi dan perkembangan aberrant crypt foci (ACF), menurunkan dysplastic foci (DF) dan betacatenin accumulated crypts (BCAC). α-mangostin menurunkan terjadinya lesi focal dan epitelium kolon tikus pada pelabelan antigen nukleus sel yang mengalami proliferasi (5).

Pada saat yang sama, penelitian Sato et al. (2004) menunjukkan α-mangostin menginduksi Ca2+-ATPase-dependent apoptosis melalui jalur mitokondria  pada sel PC12. Penelitian lain menunjukkan nilai IC50 dari α-mangostin hampir sama dengan 5-FU pada model sel DLD-1 SLJJ-1 (6). α-mangostin juga memiliki potensi kemopreventif atau agen antikanker dengan hasil signifikan berupa pengurangan in vivo dari metastasis kelenjar getah bening (7). Selain penelitian tersebut, masih banyak penelitian yang menunjukkan sifat antikanker dan sitotoksik dari α-mangostin.

Berdasarkan sifat antikanker dan sitotoksiknya, penandaan α-mangostin dengan radionuklida teknesium-99m dapat digunakan sebagai salah satu senyawa kit diagnostik dini kanker baru. Penggunaan senyawa bertanda, senyawa yang ditandai dengan isotop radioaktif (radioisotop) tertentu, berkembang dengan pesatnya. Sebagian besar dari senyawa bertanda telah digunakan dalam bidang kedokteran. 95% dari senyawa bertanda digunakan untuk tujuan diagnosis (8).

Berbagai senyawa bertanda, misalnya 99mTeknesium (99mTc)-sestamibi telah digunakan untuk deteksi dini kanker payudara. Akan tetapi senyawa tersebut mempunyai risiko besar yaitu dapat menyebabkan kanker sehingga tidak sesuai untuk pemeriksaan kanker payudara secara umum pada pasien (9). 99mTeknesium (99mTc)-medronate juga telah digunakan untuk diagnosis kanker tulang namun memiliki spesifisitas dan sensitivitas yang rendah (10). Selain senyawa tersebut, 99mTeknesium (99mTc)-tetrofosmin, 99mTeknesium (99mTc)-koloid sulfur dan 99mTeknesium (99mTc)-etarfolatide juga masih menunjukkan efek samping seperti gangguan hati dan otak meskipun memiliki spesifisitas yang lebih baik (11). Maka, untuk mengatasi masalah ini masih diperlukan radiofarmaka alternatif sehingga diagnosis dini kanker dapat dilakukan.

About Majalah Farmasetika

Majalah Farmasetika (ISSN : 2686-2506) di situs ini adalah Majalah Farmasetika Edisi Khusus yang merupakan jurnal farmasi di Indonesia SINTA 5 berbentuk artikel penelitian, artikel review, laporan kasus, komentar, dan komunikasi penelitian singkat di bidang farmasi. Edisi khusus ini dibuat untuk kepentingan informasi, edukasi dan penelitian kefarmasian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *